Jawaban Hujan
Allah, Dialah yang mengirimkan angin
Lalu angin itu menggerakkan awan
Dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendakiNya
Dan menjadikannya bergumpal-gumpal;
lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya;
Maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hambaNya yang dikehendakiNya
Tiba-tiba mereka menjadi gembira
(Qs 30:48)
Teruntuk engkau yang mencintaiku, sepenuh hati.
Sore itu aku menatapmu termangu dipinggir jendela, entah apa yang sedang kau pikirkan saat itu. Ya aku ingat engkau. Sudah 20 tahun terakhir ini engkau memujaku. Menunggu-nunggu kapan aku turun ke bumi. Ada binar dimatamu tatkala melihat tetes-tetesku mulai membasahi samudera luas, desa pedalaman, padang gersang, dan kota-kota megah pencakar langit.
Ya, aku ingat. Kau selalu menunggu disana.
Menanti kapan aku turun. Sesekali engkau bertanya pada ibumu, “kapan hujan turun bu. Aku sudah tidak sabar bermain dengannya”. Sekali waktu saat aku mulai jatuh membasahi bumi, dan matamu langsung berbinar menyala. Senyummu menghiasi wajah. Seperti sedang menemui calon mempelai istrimu saja kau ini.
Ya aku ingat engkau.
Hari itu engkau dilahirkan. Jam sebelas malam Senin pahing. Ibumu meregang nyawa diklinik desa itu. Malaikat maut tengah menunggu instruksi apakah eksekusi harus dijalankan atau tidak. Aku merasakan pedih dinikmati benar oleh ibumu. Maka aku mulai turun membasahi kampungmu. Bulir-bulirku mulai jatuh. Tetes-tetes beningku mulai bertebaran. Membentuk konfigurasi tarian kehidupan atau mungkin juga kematian.
Lihatlah, ibumu sedang kesakitan.
Payah benar kau ini, supaya engkau bisa lahir ke bumi saja, ibumu harus membuat kesepakatan dengan maut. Engkau ini, belum lahir saja sudah nyusahin orang lain. Apalagi kalau sudah lahir. Kulihat ayahmu pontang-panting menggadang kelahiranmu. Ah, aku mulai menunjukkan keperkasaanku. Kali ini aku turun sederas-derasnya. Selebat-lebatnya. Genangan air mulai membanjiri hutan depan desamu. Guntur bersahutan seolah ikut berbincang malam itu.
Dalam badaiku, dalam dinginku, wanita itu, bidan yang membantu persalinan hampir saja menyerah. Ia bahkan sampai harus menggelar sajadah dan rukuk pada Tuhan Penciptaku. Berdoa supaya engkau bisa lahir ke bumi.
Ayahmu mengangkatmu seraya tertawa terbahak-bahak.
Dia menamaimu hujan. Sama dengan namaku. Sekadar pengingat saja karena aku ikut bersaksi malam itu.
Sejak saat itu kau mencintaiku.
Sampai kini.
Engkau selalu menyebut-nyebut namaku. Engkau berlarian dibawahku. Bermain bola dalam naunganku, bersepeda sambil bersenandung tentangku, berenang di empang dalam nyanyianku. Yah, boleh-boleh saja sih engkau mencintaiku. Tapi bukan berarti aku mencintaimu juga khan. Engkau ini terobsesi denganku. Obsesif kompulsif lagi.
Aku pikir kau berlebihan dalam mencintaiku anak muda. Plis deh. Biasa aja lagi.
Kau ini mestinya eman-eman dengan rasa cintamu itu. Bukankah kau bisa membagi cintamu buat panas misalnya. Atau kalau engkau lagi ada di eropa, engkau bisa mencintai gugur dan salju. Tidak harus selalu aku khan? Kau harus tahu bahwa rasa cinta suatu saat bisa membutakan hatimu.
Sore itu, dipinggir jendela. Lagi-lagi kau menyatakan cintamu padaku.
Meski aku tahu sejatinya itu adalah manifestasi cintamu pada Penciptaku. Dengar anak muda yang sedang dalam kegamangan. Yang selalu merindui kebenaran. Dengarkan nasehatku ini.
Engkau saat ini sedang gelisah. Namun apakah yang kau gelisahkan itu kawan.
Apakah ini terkait dosa-dosamu dimasa silam. Ataukah cintamu yang tidak kesampaian kepadaku. Atau kekhawatiran-kekhawatiranmu di masa depan?
Bukankah segala sesuatu telah termaktub sejak zaman azali. Bukankah catatan kehidupanmu telah terbentang, tertuang dari pena yang mengering di awal zaman. Engkau boleh-boleh saja berapologi bahwa, nasibmu sudah ditentukan. Kedudukan-kedudukanmu di akhirat sudah tegak. Namun bukankah hidup adalah pilihan-pilihan. Seperti neraka adalah pilihan. Surga juga pilihan. Taat dan maksiat semua merupakan kehendak bebas dirimu.
Engkau ini, kupikir, kadang terlalu memikirkan sesuatu yang belum terjadi.
Atau terbuai masa lalumu sehingga melupakan masa kinimu. Kau terlalu mencintai aku sehingga tiap tindak-tandukmu, terkorelasi dengan diriku. Bagaimana sih kau ini.
Mestinya kau sadar bahwa aku ada untuk tiada. Karena segala sesuatu yang ada didunia ini. Sejatinya adalah tiada. Laa maujud ilallah. Yang wujud hanya Allah. Baru saja minggu kemarin kau belajar kalimat ini. Koq sekarang sudah lupa lagi.
Kau hidup disini. Maka hiduplah disini. Jangan hidup di masa lalu atau masa depan. Kupikir masa lalu dan masa depan hanya permainan waktu yang memusingkan pikiran bukan?
Aku turun agar kau tak sanggup menghitung titik-titikku. Nikmat Penciptamu juga Penciptaku. Aku memberikan gigil agar kau merasai hangat. Aku menurunkan basah agar kau merasai kering. Aku menghunjam bumi, dalam rinai dalam derai, semata agar engkau berpikir bahwa setelah aku, mendung kan berlalu. Cerah kelak kan datang.
Ya, aku tahu. kau sangat mencintaiku. Sudah sejak lama.
Kadang kupikir, akupun perlu juga mulai belajar mencintaimu.
Salam,
Hujan