Ryan Nugraha

November 14th, 2008

Dalam Sunyi

Posted by komasatu2006 in Goresan Pena Patah, Kampus Ideologis


Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi,

dan silih bergantinya malam dan siang,

terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal,

yaitu orang-orang yang selalu mengingat Allah,

baik dalam keadan berdiri, atau duduk,

atau berbaring,

dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi

(seraya berkata): “Ya Rabb kami,

tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia,

Maha suci Engkau, maka selamatkanlah kami dari siksa neraka.

Hujan sore hari seharusnya menyisakan anggun.

Kau tahu, aku mencintai hujan sejak lama. Namun entah kenapa hujan sore ini menciptakan lelah yang terasa. Ada jarak yang tak tertembus, tak terlihat namun begitu menganga antara aku denganMu. Ruang menujuMu tiba-tiba saja terasa luas dan jauh.

Kawan, ingin kuceritakan tentang sayap-sayap yang tak henti belajar terbang, mencari celah untuk memperpendek jarak, mempersempit ruang. Juga ingin aku kisahkan tentang harum bunga cempaka, biru langit, hembus angin dan daun-daun hijau, mengumpulkan keindahan dalam telapak untuk kupersembahkan padamu


Sesungguhnya tak jarang langkahku tersandung batu, terhalang badai. Perjuangan melewatinya tiba-tiba saja kehilangan tenaga. Ketakutan-ketakutan dan bayangan buruk menjelang tengah malam jadi begitu nyata. Kegamangan dan keraguan setiap kali jembatan dan pintu menghadang di depan mata kadang membekukan akal sehatku.


Berapa banyak lagi kepingan waktu tersisa digigir kegamangan perasaan seperti ini?

Hasrat bergerak acak dalam aras mikroskopis semesta. Kegelisahan meleleh dalam sinar bintang jatuh, daun gemetar dalam pertanyaan tak berkesudahan, dan kedurhakaan menjadi begitu nyata didepan mata.


Pada pengap sudut ruang kerja, pada jenaknya, aku termangu dalam hujan.

Pikirku. Selama ini aku berinteraksi dengan ayat-ayat suci dan kitab-kitab kebajikan. Namun, hanya sekedar kutipan dan kefasihan betapa lihai aku merapalnya. Sebatas kertas-kertas bertuliskan huruf-huruf yang terburai dari bundelnya. Lalu berterbangan tak tentu arah. Mungkin cuma satu persen saja yang benar-benar sejalan pada perilaku dan bisik hatiku. Selebihnya, aku khawatir telah berubah menjadi omong kosong belaka.


Duhai, betapa rapuhnya diri.

Alangkah sulitnya untuk tetap bergeming pada kejernihan dan kebeningan. Alangkah jumawanya aku. Betapa angkuhnya diri merasa begitu digdaya dengan semua ilmu yang terhimpun dalam otak ini. Tiba-tiba basah menggenangi wajah, menyadari kedhaifan yang terus bergulir.

Adalah Ali r.a. yang sering mengulang-ulang ayat ini. Tubuhnya bergetar hebat karena tangisnya. “Wahai Amirul Mukminin!” kata salah seorang dari sahabat Ali r.a.. “Engkau terguncang sedemikian rupa di depan keagungan Ilahi, lantas bagaimana dengan kami?”

Ali r.a. melemparkan pandangannya ke tanah. Sejenak kemudian beliau berkata:

“Suatu hari kelak, kita semua akan dihadapkan kepada Allah, dan tak sedikitpun amalan kita tersembunyi bagiNya… ”

Dalam hujan sore, hanya ada sunyi disana.

Sesekali aku menemukan sesuatu tersublim. Tersembunyi disana. Karena dalam ramai, sulit kudapatkan. Keegoisan selalu membawa pada situasi yang sulit dikompromikan. Hanya dalam sunyi, ada ruang untuk mengenali ‘aku’.


Penjaringan, 11 November 2008

Pukul 17.46

Next Page »
  • Monthly

  • Blogroll

  • Meta: