Esensi
Semoga Allah memuliakan dirimu,
Cinta, pertamanya adalah canda dan akhirnya kesungguhan.
Cinta adalah keputusan yang harus terlaksana
terhadap diri dan kekuasaan yang memberi keputusan.
Semoga Allah menunjuki dirimu,
Sedangkan wanita lebih teguh dalam cintanya daripada lelaki.
Dalam cinta ia melepaskan segala atribut dari segala sesuatu.
Cukuplah Allah sebagai pelindungku,
dan tentang manusia, dunia telah mengujiku dengan mereka…
dan sebagian cinta para lelaki adalah fatamorgana.
–Imam Ibn Hazm fil kitabii Thauq Al Hammamah (Untaian Kalung Merpati)
Kulayangkan jiwaku ke pelataran madrasah itu. Tempat kumenuntut ilmu, tempat kuberbagi tahu. Kutebarkan ingatanku ke setiap inchi dan senti lantai dinginnya, ke dindingnya yang berwarna abu-abu muda, ke lekukannya yang begitu memesona. Aku ingat dengan sibakan bunga cempaka, dan lambaian halus dedaun kelapa. Aku ingat dengan harum buah mangga meranum penuh goda di halaman belakangnya.
Kubuka kembali memoriku akan saat-saat pertemuan itu. Kuputar kembali rekaman yang menyesak di hati akan senyuman itu, keluh-kesah, harapan, dan kerinduan.
Kutangkap kembali ingat yang menyambangi diamku. Kucoba selami wajah itu detik demi detik. Lewat nasihat-nasihat berharga yang penuh tenaga, lewat tangisan mu akan buruknya berbuat dosa, akan kecemasan dengan panasnya neraka, lewat diam mu yang penuh makna, lewat pengabdian mu yang sarat kaya, lewat desah hidup yang bersahaja dan ekspektasi mu akan keindahan absolut bernama syurga.
Kulayangkan jiwaku ke pelataran masjid itu. Tempat kumerancang cita, tempat kumemancang asa, tempat kumerajut ikatan jiwa-jiwa. Jiwa-jiwa perindu syurga, jiwa-jiwa penuh aroma cinta.
Kudengar kembali lantunan kasih, kudengar pula rapalan mantra purba bernama do’a di sela-sela ajeg heningnya. Kudengar pesan-pesan mulia, kudengar pula jejak-jejak tawa. Kudengar wiridan yang membumbung hingga ke langit Arsy, meningkahi gejolak dari Serambi Makkah hingga ke pelosok Papua. Membagi peduli dari Jalur Gaza sampai tepian Xinjiang dan ke utara Chechnya.
Kuramu kembali racikan suara bisu yang mengisi malam-malam penuh munajat panjang. Malam-malam penuh perencanaan matang. Malam-malam penuh agenda yang masih terkenang.
Kuangkat jiwaku ke angkasa, melewati kanvas-kanvas hati yang terpisahkan jarak dan berjuta langkah telapak. Beribu-ribu tahun lamanya. Mengerang rinduku dengan seberkas temu, meradang ia karna tak kunjung berpadu.
Duhai Saudaraku yang kucintai karenaNya, izinkan aku membingkiskanmu sebutir mantra purba, sebagai pengikat hati-hati ini agar menjadi ia memadat-liat.
Rabb…
Rahmatilah saudaraku untuk menjadi hamba pilihan-Mu,
yang jika ia bersuara selalu mengingatkanku pada suara panggilan-Mu,
yang akhlaqnya selalu mengingatkanku akan indahnya akhlaq Rasul-Mu,
yang wajahnya selalu membangkitkan kerinduanku pada keteduhan melihat wajah-Mu,
yang jika menangis selalu mengingatkanku pada syahdunya mengadu dan memohon pada-Mu,
yang jika ia tertawa, tawanya mengingatkanku pada canda Rasul-Mu dengan para sahabatnya, yang selalu berhikmah dalam kata,
bertafakur dalam diam,
yang kelebihannya membuatku rendah hati,
dan kekurangannya membuatku memperbaiki diri …
Ya Allah, engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu,
telah berjumpa dalam ta’at pada-Mu, telah bersatu dalam dakwah kepada-Mu,
telah berpadu dalam membela syari’at-Mu. Kokohkanlah, ya Allah ikatannya.
Kekalkanlah cintanya.
Tunjukilah jalan-jalannya.
Penuhilah hati-hati ini dengan Nur cahaya-Mu yang tiada pernah pudar.
Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu.
Nyalakanlah hati kami dengan ma’rifat kepada-Mu,
Matikanlah kami dalam keadaan syahid di jalan-Mu.
Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik penolong dan pemberi petunjuk.
Semoga shalawat selalu tercurah kepada Rasul junjungan, keluarga dan sahabat-sahabatnya.
Terakhir,
kukirimkan pula bebait syair cinta, sebagai kawan bagi langkah rapuh kita yang kerap terantuk jatuh.
Akhirnya aku memilih ladang sahabat
yang akan kusemai kemurnian
membajainya dengan keimanan
tiada lain yang kuimpikan
selain kehijauan
subur dan ranum sewaktu menuai buah
inilah kebun persahabatan
datanglah ke kebunku
mengunjungi ladang sahabat
kuharus liburkan kesunyian dan duka
menyiraminya dengan renjisan tawa
juga kata-kata pujangga
ladang ini tiada pagar pemisah
berkunjunglah.
