Teleportasi
Stasiun Kereta Api Bekasi
Pagi ini kira-kira pukul 06.05 saya sampai di stasiun Bekasi.
Membolak-balik Koran ABC, beberapa headline berita tampak begitu biasa-biasa saja .
Contohnya :
JAKSA ENAM MILYAR TERTANGKAP TANGAN
(kayaknya dulu istilah yang dipakai tertangkap basah deh?);
TKW DIDEPORTASI MALAYSIA
(mungkin balas dendam atas deportasi asap kebakaran hutan kita ke negeri mereka)
INKONSTITUSIONAL, KETUA PARTAI ABC DILENGSERKAN
(disyukuri saja pak, khan jadi punya banyak waktu buat ngemong anak istri di rumah)
SETAN MERAH (LAGI-LAGI) BUNGKAM PUBLIK ANFIELD
(Kang Ronaldo is the one!)
PEJABAT X : BUKAN-BUKAN SAYA YANG TEKEN!
(saya cuma terima bersihnya aja koq :P)
TEWAS KELAPARAN, IBU DAN BALITA MAKAN NASI AKING DI KABUPATEN XYZ
(astaghfirullaha adzim, Lurahnya bilang meninggal karena diare! )
Kalau ditumpuk dengan formasi vertikal, saya yakin problem negeri ini pasti sampai ke bulan saking banyaknya. Ah, bangsa yang carut marut. Namun, lebih carut-marut lagi orang seperti saya. Cuma bisa jadi pengamat dan pemerhati masalah sosial, dan berlagak so-sial.
15 meter sejurus mata memandang, di pojok stasiun, tampak ada kerumunan penumpang kereta api. Diantara mereka, tampak ada seorang lelaki yang sepertinya saya kenal. Saya agak lupa siapa dia, namun setelah mengingat-ingat, akhirnya saya mengenali lelaki agak gemuk berkacamata tebal itu.
Setelah berucap salam dan saling menggugurkan dosa melalui mekanisme jabat tangan erat, saya ikut nimbrung dan ikut mendengarkan obrolan lelaki itu dengan seorang tukang asongan. Kemudian datang pula seorang remaja penjual koran keliling, 4 urban pekerja dari Bekasi, dan seorang ibu-ibu karyawati usia 30-an. Kami berbincang tentang masalah sosial dan transportasi, khususnya seputar kereta api ekonomi. Saya sempat berkeluh tentang buruknya sistem transportasi di kota kita.
Anda pernah dengar kata “debus”?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, “debus” atau “dabus” (banten) adalah semacam pertunjukan kekebalan terhadap senjata tajam atau api dengan menyiksa diri, menusuk, menyayat, atau membakar tubuh. Saya kaget setengah mati, hampir melompat jantung ini keluar, saat menyaksikan pria gondrong didepan saya ini menusukkan besi tajam ke permukaan kulit lehernya.
Masya Allah, otak saya yang sangat rasional ini berkata, pemuda bertampang sangar di depan saya ini pasti lagi kesakitan berat. Tapi tidak! Nyatanya, dia cengar-cengir aja tuh.
Gile beneer! Sakti-sakti dah orang Indonesia, Hebatnya lagi, anda tidak perlu pergi ke Banten untuk menonton adegan luar biasa itu. Cukup di atas kereta api ekonomi jurusan Bekasi-Kota.
Lain waktu, anda bisa juga menikmati pertunjukan topeng monyet. Tentu saja, lengkap dengan monyet-nya yang lucu itu. Sambil memegangi payung dan pura-pura naik sepeda ke pasar.
Para penumpang kereta ekonomi, terutama ibu-ibu sering ketakutan saat didatangi si monyet. Seorang pelajar bahkan sampai berteriak saking kesalnya karena digoda oleh primata sepupu Lutung Kasarung itu, dasar monyet loe!, katanya.
Anda butuh sisir, lem sepatu, batu batere, peniti, pakaian anak, kacamata baca, jarum jahit, atau tambalan panci rombeng? Tidak usah jauh-jauh pergi ke pasar. Cukup naik saja kereta api ekonomi jurusan Bekasi Kota. Dengan uang Rp5.000, anda sudah bisa membeli belanjaan itu. Kereta api ekonomi juga menyediakan kebutuhan untuk mainan si kecil anda seperti mobil-mobilan pistol-pistolan, dan robot-robotan.
Semua itu hanya dapat anda temui di kereta api ekonomi. Lain waktu lagi, ada orkes tanjidor, dengan musik gambus atau ala grup musik Ungu. Ada berupa-rupa pengamen mulai yang memiliki kualitas vokal ala Ebiet G. Ade hingga yang mirip Bob Marley.
Ada juga pengamen yang sulit di bedakan, dia ini lelaki atau wanita. Kemudian berturut-turut masuk pula ke dalam gerbong rakyat itu : karyawan kelas menengah yang ingin berhemat ongkos, pelajar SMP sambil merokok, para mahasiswa peraih beasiswa, ibu-ibu pekerja, pedagang sayur, gadis-gadis muda SPG, pengemis, pemulung, gelandangan, orang gila, eksibisionis, PNS, tukang copet, kyai, tukang jual rokok, dan tentu saja tidak ketinggalan, si masinis yang berbaju gagah itu. Tiketnya murah meriah : Rp1500.
Semoga anda selamat (dan tidak berkeringat) sampai tujuan.
Yah, saya pikir para anggota DPR yang bergaji Rp50juta per bulan itu, sesekali perlu juga naik kereta ekonomi jurusan Bekasi-Kota. Saya pikir ada filosofi berbagi rasa dan belajar memposisikan menjadi rakyat, bukan sekadar “wakil” rakyat.
Oh ya, hampir lupa, lelaki berkacamata tadi. Yang saya temui dan sempat ngobrol di stasiun kereta api. Dia juga pengguna setia kereta ekonomi lho. Dan,.. ehm, lelaki itu dilantik menjadi Gubernur Jawa Barat dua minggu kemudian.
Stasiun Bekasi, 15 April 2008
sebelum naik kereta
