Ryan Nugraha

May 26th, 2008

Lari

Posted by komasatu2006 in Goresan Pena Patah


Oh angan… mungkinkah semalam saja

aku dapat tidur

di suatu lembah, dan rumput idkhir

serta teman di dekatku?

Mungkinkah sehari saja

aku mendatangi mata air mijannah

Mungkinkah Syamah dan Thafil

menampakkan diri padaku?

(Syair Bilal bin Rabbah kala rindu dengan tanah airnya tercinta : Mekkah)

Indonesia, 25 Mei 2008.

Kaos bola berlogo timnas seharga Rp25.000, beli di Senayan

dengan badge Garuda nan gagah di saku kirinya.

Sebuah celana training cokelat muda.

Sepasang sepatu kets


Pukul 06.30 sang surya mulai memperlihatkan keperkasaannya. Seolah menunjukkan bahwa tanpadirinya fotosintesis tidak akan terjadi. Tanpa dirinya bunga cempaka tidak akan pernah tumbuh. Tanpa kehadirannya para sales marketing sunblock cream akan
kehilangan pekerjaannya.

Di Rawalumbu, setiap ahad pagi begini banyak sekali orang yang berlari.

Masyarakat modern semakin sadar bahwa olahraga bisa mengurangi klaim asuransi kesehatan mereka. Dan hanya berlari yang modalnya paling murah meriah. Anda tidak perlu tongkat golf, atau raket tenis mahal. Anda juga tidak butuh peralatan fitness nan ribet itu. Cukup sepatu kets anda bisa berlari. Nyeker pun oke.

Dulu ritual lari pagi seperti ini tidak pernah absen dilakukan oleh tiga orang : Bang Okiy, Mas Andy, dan saya. Namun pekerjaannya sebagai drafter memaksa Bang Okiy begadang semalaman dan mulai meninggalkan momen kebersamaan ini. Mungkin beliau sedang berusaha “mempertahankan” berat badannya yang sudah ideal itu. Adapun, lelaki satunya lagi mas Andy, hmm, dia sudah punya teman berlari khusus sekarang.

Baiklah, saya sendiri sekarang.

Tidak apa-apa. Lumayan ngebakar-bakar kalori sedikit. Mencoba melepaskan diri dari jabatan ketua PONGR (Perhimpunan Orang Nyaris Gendut Rawalumbu).


Pagi itu saya ingin berlari. Sendirian.

Saya ingin berlari dari kehidupan.

Setelah sedikit peregangan. Klak. Klik. Kluk. Putar-putar leher. Goyang-goyang bahu dan tumit. Menghela nafas panjang, sayapun mulai berlari. Saya pernah nonton film asing terbaik festival Cannes 1999, Children of Heaven, seorang anak kecil tampak sedang berlari. Ia rupanya berhutang sepatu pada adiknya. Ia harus memenangkan kontes lari ini. Harapannya, ia harus finis di posisi ketiga. Tapi rasa sayangnya pada sang adik tercinta memaksa ia mengerahkan segenap kemampuan terbaiknya dalam berlari : agar ia finish di urutan ketiga. Si bocah justru memenangkan lomba itu di urutan pertama.

Dan sayapun terus berlari.

Dalam 500 meter pertama, tampak sepasang orang tua. Kira-kira 60-an usia mereka. Mereka juga sedang berlari. Mereka terlihat kompak. Entah sudah berapa ratus kali mereka menikmati momen kebersamaan ini : lari. Entah sudah berapa kali mereka saling mengusap peluh dalam kompetisi lari terpanjang dalam hidup mereka. Dalam suka maupun duka.

Dan sayapun terus berlari. Tetes keringat mulai mengaliri dahi saya.

Di sebelah kiri jalan, tampak empat orang gadis muda berusia 15 tahunan. Pakaian olahraga yang mereka kenakan menyadarkan bahwa saya tidak sedang berada di Mesir atau di Yordania sekarang. Saya menyalip mereka di tikungan.

Beberapa bulir air mulai membasahi pelipis dan ketiak saya. Tapi saya terus berlari. Saya ingat bahwa sebelum mencapai keparipurnaan dalam prestasi sepakbolanya : Ryan Giggs, winger terbaik Eropa sepanjang masa, menunaikan tugas mulianya. Berlari. Menyayat sisi kiri pertahanan lawan. Tanpa lelah selama 16 tahun. Saya ingat bahwa kebodohan dapat dikalahkan dengan berlari. Seperti Forrest Gump yang mencetak prestasi dengan berlari sekencang-kencangnya.

Asam laktat menumpuk. Rasa lelah menyengat. Beban berat mulai terasa di kaki.

Jantung saya mulai berdebar kencang. Namun saya tetap berlari.

Saya ingat bahwa 1400 tahun yang lalu, dua manusia mulia itu-pun berlari. Aisyah berkata “Rasulullah sering mengajakku berlomba lari. Dulu ketika muda, aku selalu mengalahkannya. Namun ketika badanku mulai gemuk, Ia bisa mengalahkanku.”

Pepohonan mulai bergerak cepat. Saya sudah melintasi kantor kecamatan.

Telunjuk kaki kiri saya sudah mulai terasa panas. Saat itu, dalam berlari saya melihat dua orang pemulung. Mungkin ayah dan anak. Mengais-ais sampah. Mencari potongan rizki yang diberikan sang pencipta langit. Saya tidak tahu apakah segala instrumen omong kosong makroekonomi dapat menyelamatkan mereka. Supaya tidak harus lari dari kenyataan, bahwa satu-satunya cara hidup di negeri ini, adalah lari dari kehidupan itu sendiri?


Menyerahkan kehormatan dan harga diri mereka pada syetan yang terkutuk demi selembar-dua lembar kupon BLT senilai Rp100.000? Atau memilih menjadi perampok
dan penjahat demi sepiring nasi?

Tidak, mereka jauh lebih mulia dari para pemulung berdasi itu.

Segelas-dua gelas aqua bekas terkonversi menjadi enam ribu perak dari pagi hingga sore, tidak serta merta menjadikan mereka hina. Justru Raqib as akan mencatat peluh mereka, yang telah berjalan ribuan kilometer demi sesuap makanan halal, menjadi amal kebaikan. Saya mulai gerimis.

Tapi saya terus berlari. Meski kaki terasa sangat berat. Meski mata mulai terasa perih. Meski rasa lelah mulai menghujam sendi-sendi metatarsal dan ligamen, saya harus terus berlari.


Saya ingat dulu, 26 tahun yang lalu, ada seorang wanita yang jauh lebih lelah dari yang saya rasakan saat ini. Ia pun berlomba dalam keringat dan rasa pedih yang menyayat. Berpacu waktu. Bertaruh nyawa. Agar saya bisa berlari pagi ini.

Maka sayapun terus berlari. Melarikan diri dari kehidupan.

Sekencang-kencangnya. Sekuat-kuatnya.

Saya tidak tahu apakah kelak saya akan berlari secepat ini di shirat-Nya kelak. Nabi berkata bahwa di atas titian di hari kiamat nanti, ada orang yang akan melintasi shirat laksana kilat, ada yang melintasinya sambil berlari dan ada yang berjalan dengan mempergunakan wajahnya. Sahabat terkejut, “bagaimana mungkin seseorang bisa berjalan dengan wajahnya?” Rasulullah menjawab, “Dia yang menjadikan manusia bisa berjalan dengan kakinya. Pasti bisa juga menjadikan manusia berjalan dengan wajahnya.” Tiba tiba mata saya mulai basah.

Allah berfirman dalam Al Qur’an, katakanlah: “Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja.”

Sungguh saya lelah karena berlari.

Tetapi, saya harus berlari. Karena diam itu mati. Karena jumud itu tergilas. Lihatlah kejayaan Al Hambra yang hancur lebur dalam kehinaan karena umat Islam berhenti berlari. Berhenti berputar. Berhenti menggunakan fungsi akalnya. Bahwa statis itu degradasi. Retardasi. Tercecer. Bahwa kita sudah benar-benar kalah dalam perlombaan ini. Habis. Terkoyak.

Lihatlah kota seribu satu malam Baghdad yang saat ini luluh lantak karena kepengecutan itu. Lari dari kenyataan bahwa Islam, sebenarnya dan sepantasnya layak memenangkan perlombaan ini. Bahwa kita (pernah) punya kemuliaan. Tetapi para pemimpin Arab lebih mengutamakan setetes dua tetes minyak, selembar cek anuit coeptis bernilai jutaan dollar. Ditandatangani iblis bermata satu. Serta menukar izzah ini dengan harga yang murah. Saya makin tersesak.

Sungguh saya harus terus berlari. Meski saya sudah tidak kuat lagi berlari.

Dulu, syaikh Ahmad pernah ditanya, “Ya syaikh, kapankah dakwah ini bisa beristirahat?” ia menjawab, “nanti jika kaki kita sudah menginjak syurga”

Saya tidak tahu sampai kapan saya kuat berlari.

Sungguh saya tidak tahu apakah saya akan mencapai garis finish, atau justru mati di tengah lintasan ini. Saya tidak tahu apakah akhirnya saya akan menepi. Memperlambat lari saya. Berhenti, seraya mendengarkan tawaran-tawaran itu, “ayo, beristirahatlah. Jangan terburu-buru. Masa mudamu masih panjang. Hidupmu masih lama. Bersenang-senanglah bersama kami. Ayo, kemari,” Sungguh saya tidak kuat lagi berlari
karena rasa lelah ini. Akankah ini jadi lari saya yang terakhir?

Namun tiba-tiba dalam berlari saya bermimpi, ada sebuah tangan yang menopang rapuhnya kaki saya. Mengusap peluh saya. Dalam mimpi saya melihat penuntun lintasan lari saya, yang mulai kabur tertutup air mata kepalsuan dan kemunafikan saya. Sebuah cahaya berwarna merah. Saya akan mengikuti cahaya itu.

Pukul 08.15 saya berhenti berlari.

Adik saya sudah menyiapkan segelas teh manis. Saya menghirupnya sambil menyadari bahwa ternyata sampai detik ini, saya belum berhasil menghitung nikmatNya. Setelah beristirahat, saya mandi. Kemudian mulai membaca.



Rawalumbu, Ahad 25 Mei 2008

Sehabis lari pagi.

Images

Next Page »
  • Monthly

  • Blogroll

  • Meta: