Ironi
Bogor, Pekarangan rumah dr. Fardinand Rabain
Ada ironi ketika saya harus duduk melakukan pekerjaan bodoh ini. Empat belas tahun lalu saat masih kecil, saya pernah punya teori bahwa pekerjaan paling bodoh yang pernah dilakukan umat manusia ada 3 (tiga) macam : pertama, main bola, kedua, naik gunung, dan ketiga, memancing.
Pertama, apa sih tujuannya 22 orang berlari mati-matian, berebut sebuah bola bundar di tengah lapangan, sampai seperti mau bunuh-bunuhan begitu? Kenapa mereka tidak dikasih bola saja satu-satu. Biar tidak berantem lagi. Itu protes keras saya sambil tersedu lantaran ayah, paman, dan kakak-kakak sepupu tidak bisa diganggu gugat saat nonton Piala Dunia 1994, Brasil vs Italia di tivi. Sementara saya mesti kehilangan kesempatan liat aksi jagoan Airwolf : Stringfellow Hawk.
Kedua, untuk apa pula seseorang harus naik ke puncak gunung, kalau nanti dia harus turun lagi? Lagipula, kenapa juga harus mendaki? bukankah banyak medan tempuh lain yang relatif cukup datar. Pantai misalnya. Kurang kerjaan amat sih.
Dan Ketiga, ngapain juga orang melakukan perbuatan sia-sia. Duduk sepanjang hari di pinggir kolam. Berjam-jam menunggu. Berharap sesuatu yang tak pasti (red. Ikan maksudnya). Kenapa dia tidak pergi saja ke pasar, mengeluarkan selembar dua puluhribuan, membeli ikan lalu menggorengnya. Bukankah itu terdengar lebih mudah? Sekali lagi, teori ini hanya ada di benak seorang anak kecil usia 12 tahun.
Dan mungkin ini juga yang ada dalam pikiran para aktivis mahasiswa eksponen ‘98 beberapa jam setelah Soeharto jatuh. Ini idealisme bung! Berdiri di luar kekuasaan berarti menciptakan garis demarkasi antara idealisme dan non-idealisme. Pemerintah adalah pengejawantahan absurdisme. Bahkan kalau harus menjadi guru SD, para eksponen 98 pasti memberi nilai raport merah buat pemerintah saat itu.
Maka, kalau 10 tahun kemudian Anas Urbaningrum sudah jadi politisi Partai Demokrat, Rama Pratama sudah jadi aleg PKS, Budiman Sudjatmiko mantap di PDIP itu sudah lain perkara. Siapapun boleh berubah pendapat bukan? Konsistensi disini bukanlah definisi Abu Nawas yang suatu hari pernah ditanya Harun Al-Rasyid, “Berapa umurmu wahai Abu Nawas?” Jawabnya,“ 45 tahun paduka”. Dua tahun kemudian Sang Khalifah bertanya hal yang sama, ia tetap menjawab “45 tahun paduka” Khalifah bertanya lagi “Lho koq sama dengan dua tahun lalu?” Abu Nawas hanya berkata, “Saya konsisten, paduka.”
Maka wajar saja kalau 12 tahun kemudian saya malah jadi “penggila” bola dan mencintai pegunungan. Manusia bisa berubah 180 derajat bukan. Tapi memancing…?
Rumah dr. Fardinand Rabain berlantai tiga. Punya dua buah kolam ikan. Rumah ini sering sekali dijadikan the-S Team tempat dauroh (semacem Achievement Motivation Training gitu). Selain sejuk karena dirimbuni pohon mangga di halaman depan, tempat tinggal dokter terapis narkoba yang ternyata (aktivis) beragama Islam ini, punya fasilitas lengkap. Mulai sound system, kamar tidur, ruang pertemuan dan,.. tempat memancing. Ah, lagi-lagi pekerjaan bodoh ini. Kenapa disini tidak ada perpustakaan saja ya? Dan saya masih menganggap memancing adalah hal sia-sia. Adakah buku yang bisa dibaca disini, tanya saya pada kang Aat. Dia juga lagi khusyuk memancing.
Hingga pada suatu waktu, di tengah purnama tujuhbelas, masih di rumah berlantai tiga ini, tepat pukul 22.07. Setelah merenungi hiruk pikuk kehidupan dalam sepi, menikmati riuh nyanyi jangkrik dan rinai bambu ditepuk angin, dan tentu saja sambil melakukan tindakan bodoh : memancing, setelah 15 menit, kail saya bergerak perlahan.
Ada sensasi yang tak bisa terungkap dengan kata-kata saat saya menarik mata pancing itu. Benarkah ini ikan? Ikan mas? Atau jangan-jangan sepatu butut seperti di film Benyamin S. Seumur hidup saya belum pernah memancing dan malam itu saya menarik seekor ikan. Cukup besar. Jantung saya berdegup kencang.
Mungkin ini yang disebut filosofi dan nilai rasa.
Sebuah sensasi yang sulit sekali dijelaskan dengan aksara. Bahkan ketika kang Aat bercanda sambil mengatakan, “Welah, si bro dah bisa mancing ikan. Tinggal mancing akhwat nih.” Saya masih saja terdiam. Terpana melihat ikan itu.
Bogor, sebelum Ramadhan
tahun 2007
