Persepsi
Satu generasi (kira-kira 25 tahun) adalah waktu yang dibutuhkan untuk menilai seseorang. (Ibnu Hazm el Andalusi)
Menilai orang lain, acapkali saya terjebak pada bias persepsi.
Misalnya waktu naik bus kota AC 25 Jurusan Bekasi-Tanjung Priok, sensor indera keenam saya bakal langsung bekerja jika sudah ada pemuda tanggung. Gondrong. Tatoan. Penuh bekas siletan di kiri kanan lengannya. Tiba-tiba berkata, “Pak. Bu. Daripada menjambret atau merampok mending saya minta baik-baik pak. Saya baru keluar dari penjara pak. Saya lapar.” Orang ini sepertinya preman. Kata saya. Minimal mantan penjahat. Ini contoh persepsi yang tepat.
Lain waktu ada seorang sopir mikrolet di daerah Jakarta Selatan. Setengah baya. Bertopi lusuh. Berbasah peluh. Dengan seuntai handuk kecil. Kumal. Terselempang dilehernya. Ngejar setoran setiap hari, seolah dunia adalah segalanya. Orang ini sepertinya kurang begitu memperhatikan masalah agama, kata saya. Ini contoh persepsi yang salah. Kata teman saya, kang Ikhwan, orang ini seorang hafidz Qur’an.
Saya melongo.
Miss-persepsi juga bisa terjadi di kalangan para sahabat. Ada orang-orang berdahi hitam yang shalihnya bukan main. Ibadah mereka membuat para sahabat iri, saking banyaknya. Tapi Nabi berkata, mereka telah keluar dari Islam. Seperti anak panah yang melesat dari busurnya. Itulah orang-orang Khawarij. Lain waktu dalam majelisnya, Nabi berkata, sebentar lagi akan datang penghuni syurga. Ternyata yang datang hanya seorang pria biasa-biasa saja. Ia hanya memiliki keikhlasan dan tidak pernah dengki terhadap orang lain.
Bagaimana menilai sifat kualitatif seseorang, ini yang jauh lebih sulit sebenarnya. Contoh, menilai orang ini sombong atau tidak, ini sangat sulit diukur. Sombong itu kata sifat, yang oleh karenanya sangat relatif, alias akan berbeda untuk manusia yang satu dengan yang lain. Semua bergantung pada pengalaman hidup, latar belakang, dan tata nilai yang dianut seseorang.
Nabi saw mendefinisikan sombong dengan singkat : menafikkan kebenaran dan merendahkan orang lain. Beberapa kalangan mufassir menganggap masalah terbesar pada kepribadian iblis adalah rasa sombongnya yang tidak ketulungan, ketika mempertanyakan perintah Allah untuk menyembah Adam. Iblis berkata : “kenapa, bukankah aku lebih baik dari dirinya?”
Tapi percaya diri. Tidak selamanya berarti sombong. Memersepsi adalah pekerjaan utama manusia. Tapi penilaian bisa benar bisa salah. Tidak selalu benar. Simak saja personifikasi cucu nabi Hasan bin Ali ra. Beliau adalah sosok yang sangat necis dan perlente dalam berpenampilan. Selalu mengenakan pakaian terbaik yang dimilikinya. Berbeda dengan Husein ra yang lebih bersahaja.
Suatu ketika seorang Yahudi miskin berkata pada Hasan, “Wahai Hasan alangkah sombongnya engkau. Bermewah-mewah dalam penampilan dan kehidupan. Bukankah kakekmu pernah berkata bahwa dunia ini adalah penjara bagi orang-orang beriman? Tapi kulihat koq kau enak-enak saja. Sedangkan aku begini menderita.”
Hasan menjawab, “Dengarkan aku baik-baik. Jika engkau melihat kenikmatan yang kuperoleh sekarang, maka itu tidak ada artinya dengan kenikmatan yang akan kudapat di akhirat kelak. Sedangkan engkau, kesengsaraan yang kau rasakan sekarang didunia, tidak sebanding dengan azab dan siksa yang akan kau rasakan di akhirat kelak.”
Menjadi muslim memang harus tampil percaya diri. Itu keyakinan saya. Tunjukkan kalau kita adalah manusia berkualitas yang bisa menjadi teladan bagi orang lain. Hassan AlBanna, pernah memberi nasihat agar kita menjadi manusia teladan di lingkungannya (Nafi’un Li Ghoirihi). Bagaimana kita akan bisa jadi teladan kalau kita tidak berkualitas dan tidak percaya diri?
Karena relativitas cara pandang orang lain itulah, saya tidak terlalu pusing dengan bagaimana orang lain menilai apa yang saya lakukan. Saya berbuat bukan untuk menyenangkan orang atau sebaliknya. Tapi, saya berbuat karena saya pikir “I have something to do”.
Dalam sebuah diskusi misalnya, bukan hanya benar atau keliru yang kita lihat. Tapi apakah argumen yang menyertai klaim itu solid. Nah, apakah juga klaim kita terhadap sesuatu itu sudah disertai dalil-dalil yang bisa dipertanggungjawabkan sesuai dengan kebenaran itu sendiri (Al Qur’an dan Sunnah) dengan pemahaman seperti pemahaman Imam Empat Mahzab? Jangan-jangan kita yang salah karena keterbatasan pengetahuan dan minimnya ilmu kita.
Semua itu agar kita sadar bahwa kita sering kali keliru memersepsi orang lain, karena angan-angan kita memberikan gambaran yang keliru kepada kita. Dengan kata lain, kitalah sebenarnya yang punya masalah, bukan orang yang kita nilai itu. Kita ingin orang yang kita nilai itu memiliki karakter, kondisi seperti yang kita angan-angankan. Untuk membebaskan diri kita dari salah memersepsi, lebih baik kita bertanya kepada ybs atau kepada ahlinya lebih dulu sebelum memberi penilaian. Ini disebut tabayyun atau klarifikasi.
Don’t judge the book from it’s cover.
Umar ra membuat formula ajaib untuk memersepsi orang lain. Ia bertanya, apakah engkau pernah bepergian dengannya, apakah engkau pernah bermalam dengannya, apakah engkau pernah berurusan utang-piutang dengannya. Kalau belum pernah, maka engkau sama sekali tidak mengenalnya.
Hari masih pagi. Hiking bareng hyuk.
Penjaringan, 12 Agustus 2008