Ryan Nugraha

September 21st, 2008

Komprehensi

Posted by komasatu2006 in Goresan Pena Patah

“Kelak, mungkin saya akan menikah dengan orang yang sudah lama saya kenal. Dengan orang yang saya merasa nyaman dengannya.”(Ev)

 

Sudah 15 tahun saya berteman dengan lelaki itu.

Dulu waktu masih SMP, pria ini seorang kutu buku sejati. Hampir separuh lemarinya berisi koleksi Lima Sekawan bab satu sampe khatam, Trio Detektif edisi perdana hingga akhir, dan kisah horor remaja Goosebumps 35 judul lengkap. Saya sudah tidak ingat lagi berapa kali saya meminjam bukunya (dan menghilangkannya tentu saja :P).

 

Selain menjadi konsultan pribadi saya di bidang interaksi manusia dan sosial, pria ini boleh jadi merupakan “tempat sampah” saya yang paling setia menampung berbagai bentuk keluh kesah dan curahan hati. Teguh pendiriannya, luas wawasannya, punya visi dan misi hidup yang jelas. Memberi nasehat tanpa diminta, mengritik yang membangun jiwa.

 

Orang ini, terlepas dari kekurangannya, memenuhi hampir seluruh kriteria menjadi teman yang baik. Menyelesaikan S2 dengan predikat terpuji, punya pekerjaan mapan dan tampang di atas rata-rata,  sepertinya tinggal mencari pendamping hidup saja yang belum dari dirinya.

 

Kemarin malam, dalam sebuah diskusi hangat berdua dengannya (romantis khan bro, hehe). Lelaki ini bercerita banyak tentang sebuah konsep yang membuat Sigmund Freud bingung setengah mati. Dan Erich Fromm terbata-bata mendefinisikannya.

 

Ah, kawan… berceritalah terus.

Janganlah berhenti karena aku

akan mendengarkan kisahmu

Dan selesaikanlah kisah ini

hingga kita beranjak tua,

dan izinkanlah aku menulis risalah ini

untukmu saja

 

Cinta itu karunia Allah.

Bahkan Allah menciptakan alam semesta ini karena cintaNya. Maka alam dan dunia ini adalah lautan cinta. Kekuatannya mampu meluluh lantahkan arogansi diri dan kerendahan materi. Simaklah bait-bait puisi Burung Hijau :


Saat kamu tengadah dan dengan tersipu berkata :

Memang, yang terbaik dari diri kita layak disatukan

Saya pun mabuk karena manis buah berkah, dan melihat

Malaikat menghapus batas antara dunia dan akhirat


Ibnu Qoyyim Al jauziyah pernah berkata tentang arti sebuah cinta :

‘Tiada batasan cinta yang lebih jelas daripada kata cinta itu sendiri; membatasinya justru hanya akan menambah kabur dan kering maknanya. Maka batasan dan penjelasan cinta tersebut tidak bisa dilukiskan hakikatnya secara jelas, kecuali dengan kata cinta itu sendiri’


Maka sahabat,  renungilah kisah cinta manusia-manusia langit dengan tinta emas peradaban. Sebuah sejarah yang mengartikan cinta bukanlah utopia.


Adalah Hisyam bin ‘Ash yang rela meregang nyawanya takkala mendengar seorang saudaranya merintih kehausan dalam peperangan Yarmuk, memberikan air miliknya sementara bibir bejana hampir menyentuh bibirnya. Atau ingatkah kita dengan cinta seorang Rasul yang memanggil umatnya takkala sakaratul maut menyapa dirinya?


Teringat episode cantik dalam sejarah.

Seorang wanita yang rela menukar cinta dan hatinya dengan Islam sebagai maharnya. Takkala Rumaisha binti Milhan dengan suara lantang menjawab pinangan Abu Tholhah, seorang terpandang, kaya raya, dermawan dan ksatria.

 

‘Kusaksikan kepada anda, hai Abu Tholhah, kusaksikan kepada Allah dan Rasul Nya, sesungguhnya jika engkau Islam, aku rela engkau menjadi suamiku tanpa emas dan perak. Cukuplah Islam itu menjadi mahar bagiku !’ Akhirnya tinta emas sejarah mencatatnya sebagai seorang ummu Sulaim yang mendidik anaknya, Anas bin Malik dan dirinya sebagai perawi hadits Rasulullah sementara suaminya menjadi mujahid dalam sejarah Islam.


Maka sahabat, layangkanlah lagu hati Sayyid Qutb dalam nada angan akan sebuah keinginan. Lompatan jiwanya melebihi energi yang ada. Baginya kehidupan dunia bukanlah segalanya. Ia belokkan gelora yang ada hanya pada pencipta-Nya yang dengannya syahid menjadi pilihan hidupnya. Tiada mengapa tanpa cinta seorang wanita.


Maka sahabat, renungkanlah gelora percintaan Rabiah al Adawiyyah dengan Rabbnya. Mengajarkan keikhlasan akan sebuah arti penghambaan. Tak sanggup rasa mengikutinya. Mengharap Ridho-Nya sekalipun neraka menjadi pilihan akhir tempat tinggalnya.

 

Lihatlah bagaimana sejarah kembali mencatat arti sebuah cinta anak manusia dalam akhir hayatnya, sebuah cinta yang dihadirkan oleh mujaddid akhir zaman, Hassan Al Banna, yang mendahulukan iparnya Abdul Karim Mansur untuk diberi pertolongan justru pada saat tujuh peluru masih bersarang ditubuhnya……

 

Ibnu Taimiyah berkata, ‘Mencintai apa yang dicintai kekasih adalah kesempurnaan dari cinta pada kekasih.’  Teori ini bukanlah teori belaka. Teori ini merupakan sebuah konsekuensi logis dan sebuah keniscayaan dari sebuah cinta.  Membenci apa saja yang dibenci kekasih adalah kesempurnaan dari cinta pada kekasih. Alangkah indah jika semua itu dilandasi kecintaan kepada Rabb-Nya. Dan menundukkan kecintaan lainnya karena ia hanyalah kenikmatan sesaat.


Sesungguhnya siapakah kita ini kekasihku?

Hanya setitik debu melekat di bintang mati.

Menggeliat sejenak karena embun dan mentari

Hanya sedetik dalam hitungan tahun cahaya.

(Saini KM)


Jika saja Sapardi mengungkapkan kekuatan cintanya dengan bait-baitnya :

 
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu

 

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan       

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada


Maka Islam mengajarkan indahnya cinta dalam untaian do’a :


‘Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu. Telah berjumpa dalam taat pada-Mu. Telah bersatu dalam da’wah pada-Mu. Telah terpadu dalam membela syari’at-Mu. Kokohkanlah, Ya Allah ikatannya, kekalkan cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tiada pernah pudar. Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal pada-Mu. Nyalakanlah hati kami dengan ma’rifat kepada-Mu. Matikanlah ia dalam syahid di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong….

 

 

Didedikasikan untuk dua sahabat terbaik saya

akhi Ev dan calon istrinya.

Barakallahu laka. Wa barakaalaika. Wa jama’a baynakumaa fiikhair.

She is a good woman bro. The best one.

Ana uhibbuka fillah.

 

Rawalumbu, 20 Ramadhan 1429 hijriyah

Next Page »
  • Monthly

  • Blogroll

  • Meta: