Halte
Selain adegan sniper yang menembak jitu tentara Jerman, tepat di dahinya, Saving Private Ryan boleh jadi merupakan film perang terbaik yang pernah saya tonton.
Tom Hanks cukup memukau, memimpin satu regu tempur, unit ini mendapat misi khusus dari presiden AS untuk menyelamatkan nyawa seorang tamtama bernama Ryan. Bukannya apa-apa, ibunda prajurit ini sudah kehilangan 4 anaknya dalam kancah perang dunia II. Betapa hancur hati sang ibu jika saja mendapati anak kelimanya mungkin juga telah gugur dalam peperangan yang membunuh setengah juta manusia tersebut.
Kisah ini boleh jadi terinspirasi salah satu tarikh keemasan Islam .
Adalah sejarawan Ibnu Atsir rah.amengatakan, “Tidak ada seorang wanitapun yang dapat bersyair melebihi keindahan syair Khansa rha, baik sebelum maupun sesudahnya”. Pada tahun 16 hijriyyah, terjadilah Perang Qadisiyah. Khansa dan keempat anaknya menyertai pertempuran itu.
Dalam penantian di tapal batas kamp pasukan Islam, satu persatu ia mendengar kabar bahwa anak-anaknya telah gugur di medan laga. sang Ibu hanya tersenyum seraya berkata, “Syukur kepada Allah yang telah memuliakanku dengan kesyahidan mereka. Mudah-mudahan dengan kesyahidan itu, dosa-dosaku diampuni olehNya”
Penantian.
Saya tengah mencoba memahami kata ini. Kalau kata teman saya Rahmat S.Kom, penantiannya mendapatkan tawaran kerja dengan gaji ribuan US dollar di perusahaan minyak mungkin terlihat menyenangkan. (itupun jika harga minyak dunia tidak terus turun). Tetapi penantian kabar tewasnya anak-anak tercinta bagi seorang ibu seperti Khansa, bagi sebagian orang, mungkin terlihat tidak terlalu menyenangkan bukan. alias menyedihkan. Tragis. Perih. Dramatis. Benarkah begitu?
Penantian.
Kata ini juga yang menginspirasi kunjungan saya ke rumah seorang sahabat lama pagi ini. Saya menanti cukup lama, hampir 8 tahun untuk bertatap muka dengannya lagi. Kalau dulu Koasi K04B (posisi koordinat samping pilot alias sopir) selalu kami booking berdua. Ini semata- mata supaya diskusi kami tidak ada yang mengganggu itu saja.
Perumnas 1, Bekasi.
Setelah menanti 6 menit 23 detik. Berdiri kayak salesmen minyak rambut didepan rumah si ikhwan. Mencet bel. Pada pukul 08.36 WIB, tumpah ruah kerinduan itu terobati sudah.
Saya dapat oleh-oleh cerita menarik dari si ikhwan.
Ceritanya baru beberapa pekan berselang, ybs baru pulang dari dinas luarnya di Beijing, negerinya Po, si kungfu Panda. Namun bukan bagian jalan-jalannya meninjau fasilitas olimpiade Beijing nan mewah, atau pameran foto-foto narsis si ikhwan di Great Wall nan menjulang kukuh perkasa. tapi yang paling menarik adalah drama 10 menit yang terbata-bata dikisahkannya.
Larut malam pintu kamar hotelnya diketuk.
Yang berdiri didepannya seorang wanita muda rupawan, berpakaian,.. ya gitu deh. Wanita ini ternyata bagian dari servis entertainment pekerjaannya di negeri tirai bambu itu. Kata si ikhwan, “dulu saya pernah menolak tawaran dalam bentuk uang, sekarang saya kembali menolak yang “berbentuk” seperti ini. Saya bersyukur hidayah Allah masih melindungi saya.”
Saya manggut-manggut sambil menggaruk jidat yang tidak gatal.
Basic si ikhwan ini saya memang tau persis. Dulu beliau adalah pentolan aktivis rohis sekolah. Hafalannya juga lumayan banyak. Saya baru menyadari, bahwa godaan ini memang terasa begitu berat baginya karena satu hal : si ikhwan ini belum menikah. “Menanti apalagi akhi?” tanya saya. Ia hanya membalas, “engkau sendiri?”
Penantian adalah satu ujian
Tetapkanlah ku dalam harapan
Karena keimanan tak hanya diucapkan
Adalah ketabahan menghadapi cobaan
(Penantian, Seismic)
Imam Bukhari pernah meriwayatkan ucapan Rasulullah Saw tentang naungan Allah bagi tujuh golongan pada hari kiamat, salah satunya, seorang pria yang dirayu oleh wanita berparas ayu (untuk berzina), ia berkata, Inni akhaa’fullah. Aku takut pada Allah.
Sabarkanlah ku menanti pasangan hati
Tulus ’kan kusambut, sepenuh jiwa ini
Didalam asa diri, menjemput berkahMu
Tibalah izinMu atas harapan ini
Tiba-tiba saja saya teringat kisah menyejarah lain.
Saat Zulaikha, sang Istri Aziiz, menggoda Yusuf seraya memanggilnya untuk menundukkan dirinya di kamar tertutup (Qs 12:23). Ketampanan Yusuf, yang menurut tafsir Ibnu Katsir, memiliki separuh keelokan rupa Adam a.s. dan kemuliaan akhlaknya, yang membuat Zulaikha mabuk kepayang. Asy-syaghaf, mengutip sahabat Ibnu Abbas, artinya adalah cinta yang membunuh (mendalam) pada dinding hati. Inilah yang dialami Zulaikha. Yang membuatnya menderita begitu lama. Karena menanti cinta sang pujaan hati.
Robbi, teguhkanlah ku di penantian ini
Berikanlah cahaya terangMu selalu
Robbi segala upaya hambaMu ini
Hanyalah bersandar semata kepadamu
Namun penantian terhapus sudah. Berujung pada tangkai pohon berbuah manis.
Siapa sangka jika penantian Khansa, menunggu anak-anaknya pulang dengan selamat malah mendapati keempat buah hatinya gugur di medan laga, pada akhirnya Allah ridho atas dirinya. Dan penantian panjang Zulaikha terobati, beberapa tahun kemudian ia akhirnya menikahi Yusuf sang tambatan hati.
Robbi, ridhailah penantianku ini
Hadirkanlah ketentraman di dalam hati
Robbi, hanya padaMu doaku ini
Duhai tempat mengadu segala resah hati
(Penantian, Seismic)
Ah, Dani Setiawan memang penyair, melankolis bener nggak sih lagu ini? maka kemudian, masihkah pula engkau menanti kawan.
Saya hanya menjawab, “pernahkah engkau mendengar komentar janda mendiang DR Abdullah Azzam dalam penantiannya? Saat menunggu suaminya tercinta pulang, yang ia dapati justru kabar bahwa tubuh pujaan hatinya sudah hancur berkeping-keping terkena lontaran mortar. Sang istri hanya berkata ringan, “Alhamdulillah, mungkin saat ini dia sedang bersenang-senang dengan para bidadari.”
Rawalumbu, 18 Oktober 2008