Ryan Nugraha

June 20th, 2007

Pilihan

Posted by komasatu2006 in Uncategorized




Jurangmangu, 2003

Inspektorat Jenderal.

Direktorat Jenderal Pajak.

Direktorat Jenderal Bea Cukai.

Direktorat Jenderal Lembaga Keuangan.

Bapepam.

BPKP.

Kementerian BUMN.

Sekretariat Jenderal Depkeu.

BPPK.

Mana yak?

Lagi bingung milih.

Mau kerja dimana nanti.

Formulir itu masih ditimbang-timbang. Bukannya bingung cari kerja dimana, tapi bingung mau milih kerja dimana. Bener kata puisi di kaos yang dijual di Kopma.

Emang susah jadi anak STAN.

Mau bayar kuliah nggak boleh, nanti dibayarin.

Mau beli buku nggak boleh, nanti di kasih buku.

Mau cari kerja nggak boleh, nanti dicariin.

Mau bunuh diri nggak boleh, dosa tau !

Emang susah jadi anak STAN.

Oke. Oke. Easy man. Tinggal milih.

Pertama. IP menentukan lokasi. Paribasana, posisi menentukan prestasi. Yang paling favorit tentu Bapepam – Badan Pengawas Pasar Modal, kantornya di Sudirman. Elit. Ngurusin saham en instrumennya. Tapi berhubung cuman ada dua formasi, rada berat neh saingan.

Kalo BPKP gimana? Kabarnya sebentar lagi mau dibubarin. Institusi ini, katanya overload auditor 4000 orang. Mau dipangkas tinggal 2000 saja. Wewenangnya pun sekarang banyak diambil BPK. Kurang meyakinkan. Lagian mutasinya itu, lho. Waduh ke penjuru mata angin republik ini. Coret dulu.

BPPK? Jadi dosen?

Lha ini. Pas banget. Soalnya aku seneng ngajar. Tapi belakangan formasi di instansi ini ditutup entah kenapa.

3 hari lagi.

Istikharoh dulu.

Gosh. Ayo kita mulai lagi.

DJBC – hmm ini perlu fisik en stamina yang kuat. Latihan nembak sama terjun payung segala. Samaptanya itu yang berat. Dilatih sama Kopassus. Nantinya, dilapangan harus ngejar-ngejar penyelundup. Nanti dulu deh.

Tambah bingung #$$#o!$%&*%$^!!*&?

Bekasi, 2000 (tiga tahun yang Lalu)

Farmasi apa Akuntansi?

Unpad apa STAN??

Tadi siang aku ke Bintaro. Lihat pengumuman kelulusan Ujaian Masuk STAN. Ternyata Allah mengizinkan namaku nongol diantara 900-an nama yang lulus dari 25,000 pendaftar lainnya.

Lulus ujian masuk STAN- juga UMPTN – rasanya seperti menang undian berhadiah. Faktor keberuntungan lebih berperan dibandingkan faktor teknis. Dan faktor ’tangan Tuhan’ mengutip istilah Diego Maradona, lebih berperan lagi.


Allah azza wajalla. Aku malu berjumpa denganNya. Dia mengabulkan doa disaat hambaNya lalai. Dia menggelontorkan nikmat tak terhitung sepanjang hari ketika sang manusia bermaksiat dibumiNya. Sementara aku belum bisa menjadi manusia yang bersyukur, Dia menambah kasih sayang itu. Ketika pundak ini berat dengan aib dan dosa, Ia menutupNya dari pandangan manusia. Allahu ghayatuna. Aku tidak sanggup meminta surgaMu, Rabb, namun katakanlah padaku, kepada siapa lagi aku harus bermohon rahmat dan ampunan di hari saat kaki-kaki tergelincir : kalau bukan hanya padaMu.

Jadi gimana donk, kul dimana neh?

Saat itu jaket almamater Unpad sedang kuelus-elus. Kwitansi pembayaran uang gedung sudah lunas. Kos-kosan di kota Kembang itupun sudah dicharter untuk 1 tahun kedepan. Aku sudah jadi setengah urang Bandung saat itu.

Namun pengumuman kelulusan di STAN sore itu, memaksaku untuk memilih salah satu. Satu saja batu loncatan di masa depan. Dan tawaran itu cukup menggiurkan. Kampus STAN. Kampus yang katanya gratis uang kuliah. Lulusannya dijamin langsung gawe. Dapat uang saku pula. Menarik.

Problemnya hanya satu, aku buta sama sekali soal akuntansi. Sementara,mimpi jadi dokter atawa astronom di Bandung belum terwujud, aku sudah diterima di MIPA Unpad – Jurusan Farmasi. Jadi apoteker – juga lebih dikenal sebagai kang obat - .

Hidup memang, kata orang bijak, terdiri dari pilihan-pilihan.

Pilihan yang kadang bikin bingung.

Jadi daftar rencananya begini.

Pertama, survey sebanyak-banyaknya informasi tentang dua kampus ini. Semuanya. Pelajaran kuliahnya, dosen-dosennya, prospek lulusan kerjanya, lokasinya juga.

Kedua, cari masukan dari para pakar dibidangnya. Ini sih serahkan saja pada Uwa, yang mantan Pudek Faperta Unpad, Bang Lutfi (Alm.) yang dosen akuntansi, kakak kelas di SMA, termasuk kakek yang mantan pegawai Depkeu, dan tentu tidak ketinggalan Ayah tercinta, yang biasanya problem solver.

Langkah ketiga, bikin matriks manfaat-mudharat, mana yang palin bermanfaat, jika memilih salah satu diantaranya. Dan terakhir, we do the best, let Allah do the rest.

Bismillah. Pilihanku sudah mantap.

Aku memutuskan jadi akuntan saja.

Hasil istikharohku belum terlihat sama sekali. Belum ada tanda-tanda signal dari langit. Hingga pagi itu.

  • Jadi, adik-adik ini mau daftar kuliah apa kerja, - dokter manis itu bertanya. Ia merapikan jilbabnya.
  • Ini dok, test kesehatan buat syarat masuk kampus.
  • Oh, ya. diterima UMPTN ya?
  • Iya.
  • Dimana?
  • Unpad. Farmasi, ujarku pendek
  • Bagus itu.
  • Tapi dikampus lain juga diterima.
  • Wah, pinter dong. Dimana tuh? – aku nyengir, kupikir, orang didepanku ini ramah sekali dan, ehm, manis bo. Aku jadi salah tingkah.
  • Di STAN, dok. Tapi justru itu lagi bingung, mau pilih kuliah dimana.

Nah, wanita itu memberikan saran yang tegas tanpa tedeng aling-aling.

  • Sudah ambil STAN saja. Nggak usah bingung. Bagus tuh. Prospektif buat masa depan. Soalnya suami saya lulusan STAN juga. - Senyumnya.

I feel there’s a bubble lamp, lights, above my head.

Sekarang test mata. Lantai dua RSU Bekasi.

‘’ Kalau saran saya, adik ambil saja di STAN itu. Lebih bagus. ‘’ dokter setengah tua berambut putih, memberikan saran ketika aku sedang membaca huruf : E, I, B, J, K, L itu. Aku surprise lagi.

Jadi ada rekomendasi dari dua orang dokter pagi ini.

Setelah menimbang-nimbang. Tekadku bulat. Moga inilah pilihan terbaik.

Detik-detik terakhir pengembalian formulir pilihan Instansi, STAN, 2003

Siap tidak siap harus siap. Kita mulai.

,……..DJLK, DJP, Kementerian BUMN. Setjen. Ok. Alhamdulillah. Selesai.

Pilihan pertama : Bapepam

Berturut-turut : DJP; DJLK; Itjen; Setjen; Kementerian BUMN; BPKP; DJBC.

Pengumumanpun keluar. 87 dari 186 orang angkatanku ditempatkan di DJP. Sisanya menyebar. Bayu dan Tiko akhirnya yang mengambil formasi di Bapepam. Mereka memang dua manusia jenius.

Era baru akan segera dimulai.

2 tahun kemudian

Jakarta?

Bekasi?

Bandung?

Surabaya?

Mana yak?

Sekarang harus milih kota, dimana tempat penempatan kerja.

Alamak...




2 Responses to ' Pilihan '

Subscribe to comments with RSS

  1.    ebta said,

    on June 28th, 2007 at 8:48 am

    KPP Cianjur… nanti ketemu sama kakak saya jg..
    Ato Dirjen Pajak Pusat nanti ketemu Bulek saya..
    =)

  2.    raida said,

    on May 28th, 2008 at 6:42 pm

    ooooooo!!!!calon apoteker toh?sama dong kalo gitu!rencana mau jadi apoteker, tapi malah tersesat di ranah pengetahuan yang berbeda dimensi

Leave a reply

  • Monthly

  • Blogroll

  • Meta: