Keep Reading, Keep Writing
Membaca itu menurut saya artinya melamun terselubung.
Termenung tidak kentara. Kalau kata pepatah zaman baheula, buku adalah jendela ilmu, maka bertemu komunitas macam Goodreads Indonesia, Sobat Perpus, dan Jakarta Bookworms yang sama-sama hobby baca seperti menemukan harta karun besar.
Buku itu memang untuk dibaca. Bukan buat ganjelan tidur ala mahasiswa STAN dikampus dulu. Apalagi buat bungkus sayur-sayuran. Ibu saya cerita bahwa beliau menyesal setengah mati karena waktu masih remaja pernah membungkus cabe, bawang, dan sayuran di warung nenek menggunakan lembaran-lembaran paling berharga Bung Karno, Di Bawah Bendera Revolusi berubah jadi bungkus bumbu dapur. Waktu itu buku ini tidak berharga dan banyak dijual di pasar loak. Hari ini, edisi pertama buku proklamator RI terbitan 1961 ini dihargai Rp50 juta oleh kolektor buku langka.
Membaca menurut saya adalah kewajiban pertama sebelum menulis. Makanya perintah membaca pertama kali turun atas Nabi Saw, dan perintah menulis pertama kali turun bagi Al-Qalam (Pena). Nabi diperintah membaca atas nama Rabb yang mencipta, sedangkan Pena diperintahkan untuk menulis takdir manusia hingga hari kiamat.
Karena itu saya selalu menyempatkan diri untuk membaca dimana saja. Di kereta, di bus AC 27, di kamar, di taman, di kantor, di loket, dimana saja. Sambil duduk. Sambil makan, Sambil jongkok. Sambil berdiri. Sambil tidur.
Sayangnya menulis belum menjadi kewajiban bagi saya. Padahal kata Seno Gumira Ajidarma, penulis trilogi Penembak Misterius, “aku mewajibkan menulis karena aku membaca.” Saya baru mewajibkan membaca saja. Belum menulis. Semoga saya bisa berikhtiar untuk menulis.
Suatu sore, saat membaca, angan saya mengalun. Membawa ruh ini terbang laksana pendulum waktu. Menarik jiwa kembali ke 680 tahun silam.
Damsyik, 1328
Dalam temaram cahaya unggun yang meretih diluar jeruji jendela sempit, Ibnu Taimiyah melihat titik-titik air bening di mata para muridnya. Ia tersenyum. Kejernihan di sorot matanya menebar, mendesak gemuruh api yang memakan kayu berkeretak. Kemudian penjara kota Damaskus menjadi saksi kata-katanya yang abadi menyejarah.
“Apa yang dilakukan musuh-musuhku kepadaku? Demi Allah jika mereka memenjarakanku, inilah rehat yang nikmat. Jika mereka membuangku ke negeri antah, inilah tamasya yang indah. Jika mereka membunuhku, sebagai syahid aku disambut”
“Apa yang harus kami lakukaan wahai guru??” saya bertanya
“Beberapa hari ini, Sultan telah melarang penjaga memberiku pena, kertas dan tinta. Tolong lemparkan arang-arang itu kedalam.. sungguh aku ingin menulis”
Mulai hari itu dari arang yang menari di atas tembok saksi salah satu karya besarnya yang berjudul Risalatul Hamawiyah dipahatkan untuk keabadian. Keabadian nama Syaikhul Islam. Keabadian da’wah dan jihadnya. Keabadian atas hasad orang-orang kerdil jiwa yang iri padanya.
Ketika ia wafat, buku-bukunya dibakar & dihancurkan. Muridnya, Ibnul Qayyim Al Jauziah diarak keliling kota, terikat diatas gerobak sampah. anak-anak kecil berlarian seiring tawa ejek orang-orang dewasa, mengolok, meludahi, dan melemparinya dengan buah busuk.
Berbahagialah Ibnu Taimiyah, setiap huruf yang ia tuliskan menjadi dzarrah kebaikan, memicu reaksi berantai yang mengalirkan pahala dari sisiNya.
Rawalumbu, Ahad, 1 November 2008
Maroji : makalahnya Salim Fillah
on November 10th, 2008 at 12:45 am
buku buku dan buku. ha3x