Introspeksi
Secara umum introspeksi atau muhasabah bisa diartikan sebagai kemampuan untuk mengumpulkan, menapis, memilah, dan menata berbagai peristiwa, sebagai preferensi bagi perasaan, navigator bagi pikiran, dan nakhoda bagi tindakan kita; untuk kebaikan diri maupun untuk menempuh hidup ini secara konsisten seraya memecahkan masalah-masalah kehidupan.
Lebih khusus dalam khazanah literatur Islam, introspeksi atau muhasabah diyakini sebagai cara paling ampuh, agar seseorang tetap berada pada jalur yang benar. Setidaknya bisa meredam kejumawa’an dan menghambat ketidakacuhan atas kesalahan diri. Yakin, setiap diri, siapapun ia pasti punya masalah dengan kedua hal tersebut : kejumawa’an dan ketakacuhan. Karenanya kita semua setuju dengan pernyataan Umar bin Khattab, ”Hisablah dirimu sebelum dihisab, Timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang. Sesungguhnya berintrospeksi bagi kalian pada hari ini lebih ringan daripada hisab dikemudian hari”.
Ibnu Qudamah dalam Minhajul Qashidin menguraikan muhasabah menjadi dua; muhasabah sebelum dan sesudah amal.Pertama, muhasabah sebelum beramal, ketika seseorang berhenti sejenak, merenung disaat pertama munculnya keinginan untuk melakukan sesuatu. Tidak bersegera padanya sampai benar-benar jelas baginya bahwa melakukannya lebih baik daripada meninggalkannya. Tepat seperti yang dikatakan Hasan al Basri, ”Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berpikir disaat pertama ia ingin melakukan sesuatu. Jika itu karena Allah, ia lanjutkan dan jika sebaliknya ia menangguhkannya”
Ada ungkapan yang patut kita renungkan,”Semakin takut seseorang untuk beramal karena selain Allah maka semakin ringan baginya untuk beramal karena Allah”
Kedua, muhasabah setelah beramal, ketika seseorang merasa khawatir ada hak-hak Allah yang dilalaikan dalam setiap amal kebaikan yang telah dilakukan. Bukan hanya khawatir amalan itu dilaksanakan dengan cara serampangan dan tidak semestinya juga menyangkut tiga hal sekaligus: ikhlas, ‘ittiba Rasul dan ihsan.
Ada satu penyakit jiwa yang sangat ditakuti para ulama dan salafus shaleh disetiap amal mereka, yakni, penyakit merasa paling baik, ujub dan takabur sehingga layak mendapat perlakuan istimewa diantara sesama hamba. Padahal jelas, takabur, sekecil apapaun bisa memalingkan manusia dari surga. “Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada sifat takabur sekalipun seberat dzarrah.”
Teman, jikalau sifat ujub mengusasi kita, saat rasa jumawa terasa kuat mengungkung batin kita, pelariannya bagi saya hanya satu: introspeksi dan belajarlah menghinakan diri. Seperti Tabi’in Yunus bin ‘Ubaid yang berkata ,”Aku benar-benar mengetahui seratus bentuk kebajikan, Tetapi kulihat tidak ada satupun yang ada pada diriku”.
Padahal semua orang mengetahui, beliau adalah salah satu generasi salafus shaleh, hingga orang-orang berkata: “Tiada datang hak-hak Allah melainkan beliau menunaikannya dengan baik”. Wallahua’lam.
Penjaringan, 11 Desember 2008
on December 12th, 2008 at 2:09 am
Bro.. berarti gw harus muhasabah ya atas insiden innova yang menimpa gw hehe…
Bisa aja ente….