Ryan Nugraha

January 6th, 2009

Eskalasi

Posted by komasatu2006 in Goresan Pena Patah

“Untuk sebuah kemerdekaan yang kita dambakan… (Bung Hatta)”

11 tahun lalu, kira-kira tahun 97-an, seperti kebanyakan remaja lainnya, saya paling doyan maen. Entah maen bola sampai dekil, lari-larian atau naik sepeda ke daerah Cibitung sana. Waktu itu Game Sega dan Nintendo masih populer di kalangan remaja kota, game favorit saya adalah Super Contra dan Street Fighter. Bisa berjam-jam waktu siang habis buat bertarung di dunia maya ini. Untungnya, ibu saya hanya membolehkan saya main game Sabtu dan ahad. Hari biasa, No Reken, nintendo saya dimasukkan ibu ke dalam lemari.

Malam minggu biasanya saya habiskan buat nonton bioskop di Robinson atawa Rama di daerah Bekasi. Tiketnya masih 5000 perak. Filmnya waktu itu saya ingat betul, Jurasic Park, sama Independence Day. Tontonan standar-lah buat penggemar fiksi ilmiah. Bersama Mamat, Agung, Didik dan konco-konco SMP lainnya nongkrong di bioskop sampai larut malam. Jam dua belas malem baru pada balik ke rumah.

Meski tukang keluyuran, Nem saya ternyata cukup lumayan untuk bisa masuk ke salah satu SMA favorit di kota Bekasi. Jadilah hari itu Senin, 21 Juli 1997, saya remaja ABG bertampang cupu. Dengan rambut klimis sisir kesamping, pake Brisk setengah botol, pake celana abu-abu, menapaki hari pertama di SMA.

Jujur saja kawan, klo saat itu saya ditanya dimana posisi negara Palestina, pasti saya tidak tau jawabannya. Jangankan bersimpati pada kondisi umat Islam yang waktu itu sedang tertindas, bahkan posisi geografis Palestina saja saya tidak tau. Waktu itu saya pernah membaca koran tentang ribuan umat Islam yang tewas pada perang Bosnia 1995. (lagi hangat-hangatnya peristiwa Bosnia kala itu), tapi semua potongan informasi yang masuk ke dalam kepala remaja ABG itu hanya menyisakan satu sikap : ngapain juga sih mikirin orang lain di negeri antah berantah sana. Toh kita di Indonesia aja sudah pada susah koq.

Hari itu mungkin tidak akan pernah terlupakan dalam hidup saya.
Ceritanya masa orientasi siswa baru, akan diisi oleh anak-anak Irman (organisasi rohani Islam) di SMA saya, yang kabarnya militan2 dan fundamentalis anggotanya. Saya ingat kata seorang guru agama di sekolah waktu itu, “kalian hati-hati kalau kakak-kakak kalian bercerita tentang ajaran Islam tertentu. Bisa sesat kalian. Waspada kalo kalian diajak ikut pengajian mereka.” Ya saya ketakutan juga kalau nanti mesti masuk aliran begitu. Saya tidak mau jadi Islam yang aneh-aneh. Saya mah mau jadi orang Islam yang biasa-biasa saja.

Namun siang itu ada yang berdesir dalam hati saya tatkala seorang pemuda kerempeng masuk ke dalam kelas. Sebut saja beliau Kak Cecep. Senior di Irman. Dengan senyumnya yang menawan, beliau bertutur membakar semangat kami tentang hakikat dan izzah sebagai muslim.

Saya masih ingat Kak Cecep waktu itu mengisahkan fase-fase dipergilirkannya kejayaan Islam. 700 tahun pertama Islam berada dalam kejayaan Nabi dan khulafaur rasyiidn, serta khalifah ala min hajjin nubuwwah. Kemudian masuk pada fase 700 tahun kedua saat Islam ditindas habis-habisan. Umatnya lemah dan dibantai dimana-mana, negerinya terpecah belah. Dan kurun 700 tahun ketiga, saat al-Islam akan bangkit dan tegak kembali di muka bumi. Pertanyaan beliau waktu itu, akankah kita ambil bagian menjadi ummat yang dimenangkan oleh Allah, ataukah justru menjadi ummat yang kalah dan terhinakan di muka bumi? Pertanyaan itu masih terngiang dengan jelas sampai sekarang.

Saat itulah, ketika awal-awal tergabung di Irman, pernah saya mendapat beberapa foto tentang kondisi umat Islam di Shabra Shatilla. Saat kaum Palangis dan tentara Israel membantai secara biadab lebih dari 2400 pengungsi Palestina di Shabra Shatilla, mata saya yang buta baru tersadarkan akan kondisi ummat Islam di dunia, hingga sekarang. Bahwa kita memang tengah ditindas dan dizalimi secara luar biasa oleh kaum kuffar.

Januari 2000, Kak Cecep, mahasiswa teknik fisika ITB berpredikat cumlaude itu. Seoarang remaja kurus yang memiliki senyum menawan. Yang dulu biasa ngasih les gratisan fisika buat kami, trigonometri dan logaritma. Yang membuka mata dan hati saya akan keindahan Islam, seolah membuktikan ucapannya untuk menjadi ummat yang dimenangkan oleh Allah. Meninggalkan tawaran bekerja di salah satu perusahaan multinasional di Bandung, ia justru terjun menjadi relawan di medan jihad Ambon, tertembak dalam perang di Saparua. Dan menggapai cita-citanya menjadi syahid disana, biidznillahi. Allahumaghfirllahu ya akhi. Semoga kemuliaan tercurah atas engkau.

Januari 2009, nintendo saya masih ada. Tapi sudah saya bungkus rapi dan hanya menjadi kenangan masa lalu. IRman masih ada, tapi sudah tidak semilitan dulu. SMA saya masih ada, sudah jadi sekolah bertaraf internasional sekarang. Namun satu hal yang tidak berubah, al-Islam, agama saya, tidak berbeda dengan bertahun lalu, dan mungkin ratusan tahun berlalu, masih terpuruk hebat. Pasca invasi zionis Israel, 550 umat muslim Palestina dibantai di Gaza, ribuan lainnya luka-luka. Sebagian besar yang terbunuh adalah anak-anak dan wanita.

Satu lagi yang tidak pernah berubah, bahwa saya hanya bisa menjadi pengamat atas semua penindasan ini. Padahal Rasulullah saw pernah berkata, “bukan termasuk ummatku, seseorang yang tidak peduli dengan urusan saudaranya yang lain”. Ampuni hambamu ini Rabb.

Allaahummaghfir lil muslimiina wal muslimaat, wa allif baina quluubihim wa ashlih dzaata bainihim, wanshur ‘alaa ‘aduwwika wa ‘aduwwihim.

“Ya Allah ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, Ya Allah lembutkan, satu padukan hati orang-orang muslimin. Perbaikilah keadaan mereka, Tolonglah kaum muslimin untuk melawan musuh-musuh-Mu, dan musuh-musuh mereka.

Allaahummal ‘in kafarota ahlil kitaabilladziina yukadzdzibuuna rusulaka wayuqottiluuna auliyaa aka.


Ya Allah, laknatlah orang-orang kafir yang mendustakan para RasulMu dan membunuh para kekasih-Mu,

Allaahumma khollif baina kalimaatihim, wa zalzil aqdaamahum, wa anzil bihim ba’ sakalladzii laa yuroddu ‘anilqoumil mujrimiin.

Ya Allah cerai-beraikan kesatuan kata mereka, hancur leburkan kekuatan mereka, Dan turunkanlah bencana-Mu yang tiada tertolak lagi untuk orang-orang yang penuh dengan dosa.

Bismillaahirrohmaanirrohiim. Allaahumma innaa nasta’iinuka. Washollallaahu ala sayyidinaa muhammadin wa ‘alaa aalihi wa ashhaabihii ajmaiin.

Dengan menyebut nama-Mu ya Allah yang Maha Pengasih Maha Penyayang,
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon perlindungan kepadaMu. Semoga shalawat senantiasa tercurah pada Muhammad, keluarga dan para sahabat.


Penjaringan, 5 Januari 2009



Leave a reply

  • Monthly

  • Blogroll

  • Meta: