Refleksi
Ramadhan 1429 Hijriyah,
Lelaki itu bukanlah siapa-siapa. Hanya seorang perindu kebenaran. Beberapa pekan yang lalu ia mengutarakan niatnya kepada sang ustadz untuk menikah. Lelaki itu bukanlah siapa-siapa, dan tidak memiliki apa-apa. Hidup sebatang kara, mencari nafkah menjadi teknisi komputer di Bekasi, ia sudah bertekad untuk menikah tahun ini.
Suatu hari kecelakaan sepeda motor menghancurkan tulang pinggulnya. Ia menjadi cacat permanen seumur hidup. Namun akhlaknya sungguh hanif. Melebihi manusia lain yang masih sempurna organ fisiknya.
Berkali-kali tawaran menikah ditolak para akhwat, kaum wanita yang konon “mulia” itu. Alasan klasik yang “sangat bisa diterima” akal sehat. Semata-mata karena lelaki itu adalah seorang faqir. Juga memiliki cacat fisik.
Sampai suatu ketika, seorang wanita berkenan menerima lamarannya.
Seorang akhwat, hanifah. Entah turun dari langit mana. Ia mengkhitbahnya ke penjuru selatan Jawa, Ramadhan itu. Sebelum berangkat ia sempat berhutang pada seorang kawan, minta dibelikan sebuah mushaf. Dan sebuah mukena. Untuk mahar.
Taklimat via sms masuk ke hp saya,
“akhi, usahakan sebagian zakat yang antum kelola diberikan untuk membiayai perjalanan dan pernikahan akhi M. karena beliau sangat fakir. Dan termasuk pula ibnu sabil.”
Karena hari lebaran tinggal berselang tiga hari lagi, dan pernikahan akan dilaksanakan setelah lebaran. Pontang-panting teman-teman kami mencari sumbangan untuk safar beliau.
Dan ia benar-benar berangkat ke penjuru selatan Jawa, naik kereta ekonomi. Hanya ditemani pamannya.
Menjemput sang bidadari dunia.
Menjemput takdirnya.
……………………………………….
Engkau selalu menanti, setiap rindu hati
Betapapun debu di diri, dimaafMu tak berartiIzinkan aku kembali
Bersujud dan berdoa lagi
Lalu teguhkanlah aku disini
Di dekap cinta dan maafMu
Ya, Robbii..
Wahai Saudaraku,.. ya akhi..
Kiranya tiada kegembiraan,
selain melihat seorang sahabat bercahaya mewajah
dengan kata-kata mengalun bak buluh perindu.
Ya Rabbul izzatii…
Semoga Engkau merahmati kami dengan satu Qaulan Tsaqiilan dan dua prajurit-Nya,
yang kudamba menjadi pejuang-pejuang Islam kelak dewasa nanti.
Sang mutaakhir,
kuidamkan menjadi sosok cerdas dari kader Islam
yang senantiasa detik demi detiknya berjuang untuk agamanya yang lurus.
Sang muhandis Yahya ‘Ayyash
kuidamkan menjadi seorang hafidz dan ‘ulama yang faqih dalam ilmunya,
merendahkan diri, tidak suka berjidal namun tinggi didepan musuh-musuh Allah.
Wahai saudaraku,.. ya ikhwatu fillah..
kiranya nama-nama yang engkau sebutkan membuatku semakin bertambah yakin bahwa ukhuwah ini telah membuatku merindukan masa-masa lalu
iswardhani, eri, zul,
kalista, zulfa, nia, ukhti harmi
ade hidayat, fajri nur, rangga, azis, ikhwan ashadi
rahmat
hasbunallah wa ni’mal wakiil.
Wahai saudariku, ya ukhti…
siapa gerangan engkau yang telah membuat bambu hatiku terusik dengan suara berisik oleh angin perkataan syahdumu
ah…kiranya engkau sudi memperlihatkan wajah rembulanmu…
sekarang atau nanti?
Lunglai-ganas karena bahagia dan sedih,
indah dan gigih cinta kita di dunia yang fana.
Nyawamu dan nyawaku dijodohkan di langit,
dan anak kita akan lahir di cakrawala.
Adapun mata kita akan terus bertatapan hingga berabad-abad lamanya.
Juwitaku yang cakap meskipun tanpa dandanan
untukmu hidupku terbuka.
Warna-warna kehidupan berpendar-pendar menakjubkan
Isyarat-isyarat getaran ajaib menggerakkan penaku.
Tanpa sekejap pun luput dari kenangan padamu
aku bergerak menulis pamflet, mempertahankan kehidupan.
Jakarta, Kotabumi, 24 Maret 1978
WS Rendra
Rawalumbu, 14 Februari 2009
Ryan Nugraha