Eksistensi
Sukakah engkau, jika aku bertutur sebuah impian?
Tentang sebuah rumah kecil di kaki bukit. Dan gemerisik pancuran bambu beralir sejuk berselimut embun. Dan sebuah musholla sederhana ditengahnya? Ada anak-anak kecil berlarian. Berkejaran si pengerat wortel. Tertawa terbahak-bahak. Berjilbab imut dan lucu. Gemas.
Ada patah-patah kata mengeja hija’iyyah, juga doa pada orang tua. Ada pertanyaan-pertanyaan dari lisan polos itu, Mengapa bintang itu bersinar terang Ayah ? Mengapa siang di timur dan barat berlainan waktunya ? Mengapa kurva waktu selalu diproteksi tertutup? Juga tentang teriakanmu membahana : GOAL. Saat Zaenal Arief melesakkan bicycle kick. Dan membawa Persib Bandung. Menjuarai Liga Indonesia.
Ada sebuah langkah kecil yang kurindu. Saat kotak makan itu, tergenggam tangan kirinya. Sementara tangan kanannya, menghangatkan tanganku. Menuju sebuah SDIT Nurul Jannah.
Ada peluk yang kudamba. Saat penat laporan kerja, dan ocehan para konsultan keuangan. Menghujani synaps-synaps di kepala. Terobati Tatkala beban mungil 24 kilogram itu. Menggelayuti leherku. Sambil berceloteh hafalan Juz Ammanya. Ada konsep yang harus kujelaskan. Saat mimpimu pertama kali. Juga permintaan nasehat pada Umi-mu. Tentang kehadiran ’si dia’.
Ada tandatangan yang harus kububuhkan diatas raportmu : Sambil kupandang senyum Agama 9 Bahasa Indonesia 8 Matematika 9 PPKN 7 IPA 9 IPS 8. Ada marah padamu. Ketika engkau sibuk bermain dan melupakan Dzuhurmu. Juga kebohongan-kebohongan kecilmu.Ada ciuman yang mendarat di pipi. Juga buat mereka, serta ketulusan berujar : Maafin Saya Ya Ayah, Maafin Saya Ya Umi, Maafin Saya Kakek, Nenek, Janji deh gak nakal lagi. Dan sayup takbir berkumandang di Ied-Nya yang mulia.
Dan, ada rasa bangga menyeruak. Tatkala engkau menunjukkan. Selembar sertifikat beasiswa. Studi di Al Azhar, Cairo. Ada ketertegunan. Tatkala engkau bertutur tentang pertempuran pemikiran Islam. Dirimu melawan kaum rasionalis liberalis. Via email dan japri. Serta diskusi-diskusi hangat itu.
Maka mata ini dipaksa berkaca-kaca. Saat dirimu meminta izin. Memutuskan bergabung dengan barisan kebenaran. Di Yerussalem. Seraya berujar : Susul aku, Ayah. Pasti, mutiaraku, Insya Allah.
Maka melelehlah air kornea-ku. Tatkala sahabatmu mengisahkan tentangmu. Yang bertempur hebat laksana badai bergemuruh. Melawan kaum pengikut dajjal. Sebelum sebuah senyum terindah. mengiringi sebutir peluru. Menembus dadamu yang kecil dan kurus. Dan butiran darah itupun menyentuh bumi,
Maka, Mutiaraku. aku merindukan syafaat Rasulullah atasku, karena kebajikanmu. Aku merindukan kemudahan melintasi titian ini. Karena doa-doamu di dunia.
Aku merindukan kita berjumpa kembali dengan Umi, Kakek, Nenek, Bibi, Paman, dan Saudara-Saudara tercinta, seraya berangkulan bersama. Menghadiri majelis mulia Para Nabi dan Syuhada. Serta memandang wajah-Nya. Di Jannah-Nya kelak. Setiap Pagi dan petang. Kita. Selamanya.
Insya Allah. Amien. Ya Robbal Alamien.
Rawalumbu, 12 Juli 2007
on July 15th, 2008 at 8:42 pm
Nice post bro :)
Tapi ada beberapa frasa nih yang bikin ane senyam-senyum..
“Mengapa kurva waktu selalu diproteksi tertutup?”
“Agama 9 Bahasa Indonesia 8 Matematika 9 PPKN 7 IPA 9 IPS 8″
Pasti ente tau lah knapa ;) hehe….
You doing great bro…